PANDEGLANG — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu bentuk perhatian pemerintah dalam memenuhi kebutuhan gizi sekaligus mendukung kesehatan dan masa depan generasi muda. Karena itu, makanan yang disajikan kepada para siswa tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga menyangkut keamanan, kesehatan, serta kepercayaan orang tua dan masyarakat.
Di tengah harapan tersebut, informasi mengenai dugaan adanya belatung dalam menu MBG yang dibagikan kepada siswa SMAN 12 Picung, Kabupaten Pandeglang, menjadi perhatian publik.
Namun, dugaan tersebut dibantah oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kolelet Picung #001 Yayasan Peduli Bangsa Pandeglang.
Kepala SPPG Kolelet Picung #001, Fitri Hermawati, SH., memastikan bahwa informasi mengenai adanya belatung dalam menu MBG tersebut tidak benar.
Hal itu disampaikan Fitri kepada wartawan, Jumat (4/9/2026).
Menurut Fitri, pihaknya memahami bahwa masyarakat memiliki hak untuk mempertanyakan kualitas makanan yang dikonsumsi anak-anak, terlebih MBG merupakan program pemerintah yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.
Karena itu, setiap informasi mengenai dugaan persoalan pada makanan, kata dia, harus disikapi secara serius, objektif, dan berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami tegaskan bahwa dugaan adanya belatung dalam menu MBG di SMAN 12 Picung itu tidak benar. Kami menjalankan proses sesuai aturan dan prosedur yang telah ditetapkan, dan kami berani mempertanggungjawabkannya,” tegas Fitri.
Menjaga Kualitas Makanan Anak
Fitri menuturkan, pihak SPPG menyadari bahwa makanan yang mereka siapkan setiap hari dikonsumsi oleh anak-anak sekolah.
Menurutnya, di balik setiap porsi makanan terdapat harapan para orang tua agar anak-anak mereka mendapatkan asupan yang sehat dan bergizi. Di sisi lain, terdapat amanah pemerintah agar program MBG benar-benar memberikan manfaat bagi generasi penerus bangsa.
Kesadaran tersebut, lanjut Fitri, menjadi dasar bagi SPPG Kolelet Picung untuk berupaya menjalankan setiap tahapan pelayanan secara serius.
Mulai dari pemilihan bahan makanan, proses pengolahan, pemeriksaan hingga pendistribusian menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas makanan yang diberikan kepada para penerima manfaat.
“Kami juga punya anak-anak. Kami memahami kekhawatiran orang tua. Tidak mungkin kami dengan sengaja memberikan makanan yang membahayakan kesehatan anak-anak,” ujarnya.
Terbuka terhadap Kritik dan Pengawasan
Fitri juga menegaskan bahwa pihaknya tidak alergi terhadap kritik maupun pengawasan masyarakat.
Menurutnya, pengawasan publik justru penting sebagai bagian dari upaya memperbaiki pelaksanaan program MBG agar semakin baik dan sesuai dengan tujuan pemerintah.
Ia mengatakan, apabila terdapat pihak yang memiliki informasi maupun bukti mengenai dugaan persoalan pada makanan yang dibagikan, pihak SPPG siap menerima laporan dan melakukan penelusuran.
Apabila memang ditemukan persoalan, kata Fitri, sumber masalah harus dicari dan diselesaikan secara terbuka. Sebaliknya, apabila informasi tersebut tidak terbukti, masyarakat juga perlu mendapatkan penjelasan agar tidak menimbulkan keresahan berkepanjangan.
“Kami tidak menutup diri. Kalau ada laporan, silakan disampaikan. Kami siap mengecek dan menelusuri. Yang kami inginkan adalah kebenaran dan perbaikan bersama,” katanya.
SPPG Kolelet Picung #001 juga menyatakan akan terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG, khususnya terkait kualitas makanan dan pelayanan kepada para siswa.
Pemerintah Diharapkan Menjaga Kepercayaan Publik
Munculnya isu terkait makanan dalam program MBG menjadi pengingat bahwa keberhasilan program pemerintah tidak hanya diukur dari tersalurnya makanan kepada penerima manfaat.
Keamanan pangan, kualitas gizi, kebersihan, transparansi, serta pengawasan juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan oleh seluruh pihak.
Program MBG sendiri memiliki tujuan besar dalam membantu memenuhi kebutuhan gizi anak sekaligus mendukung lahirnya generasi Indonesia yang lebih sehat dan berkualitas.
Karena itu, setiap persoalan yang muncul di lapangan semestinya dapat menjadi bahan evaluasi dan penyelesaian berdasarkan fakta, bukan sekadar berkembang menjadi polemik.
Anak-anak tentu tidak memahami persoalan anggaran, birokrasi maupun berbagai kepentingan di balik sebuah program. Mereka hanya mengetahui bahwa makanan yang diterima merupakan bagian dari program pemerintah.
Di situlah tanggung jawab moral seluruh pihak menjadi penting.
Jika memang terdapat persoalan, maka harus diperbaiki. Sebaliknya, apabila sebuah informasi tidak terbukti, maka perlu diluruskan melalui penjelasan dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan demikian, kepercayaan masyarakat terhadap Program MBG dapat tetap terjaga dan tujuan pemerintah dalam menghadirkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkualitas tidak terganggu oleh informasi yang belum terverifikasi.
SPPG Kolelet Picung #001 menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan pelayanan MBG secara bertanggung jawab serta terbuka terhadap evaluasi dan pengawasan.
Sebab pada akhirnya, yang menjadi prioritas bukanlah siapa yang menang dalam sebuah polemik, melainkan bagaimana anak-anak mendapatkan makanan yang aman, bergizi, dan layak.
Karena di tangan merekalah masa depan bangsa akan diteruskan.
(Team/Red*
