LEBAK, BANTEN | Mediatargetkamera.my.id
Komitmen pelayanan kesehatan yang humanis dari Direktur Rumah Sakit (RS) Misi saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Kabupaten Lebak beberapa waktu lalu kini menjadi sorotan. Hal tersebut menyusul keluhan King Naga yang mengaku kecewa setelah ibunya diminta pulang oleh pihak rumah sakit, meski menurutnya masih membutuhkan pemantauan medis menjelang jadwal operasi.
King Naga menyayangkan keputusan tersebut karena menilai kondisi ibunya masih memerlukan perhatian tenaga medis. Ia mempertanyakan pertimbangan pihak rumah sakit yang mengarahkan ibunya menjalani rawat jalan sambil menunggu jadwal tindakan operasi.
“Ini sangat tidak masuk akal. Ibu saya kondisinya masih membutuhkan pantauan medis, tetapi malah disuruh pulang sebelum jadwal operasinya tiba. Jika terjadi apa-apa di rumah, siapa yang mau bertanggung jawab? Di mana letak pelayanan humanis yang selama ini digembar-gemborkan?” ungkap King Naga dengan nada kecewa.
Menurut King Naga, pengalaman yang dialami keluarganya tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai penerapan komitmen pelayanan kesehatan yang sebelumnya disampaikan pihak manajemen RS Misi dalam forum RDP bersama DPRD Kabupaten Lebak.
Dalam rapat tersebut, manajemen rumah sakit disebut berkomitmen mengedepankan prinsip kemanusiaan serta memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat tanpa diskriminasi. Namun, keluhan yang disampaikan King Naga memunculkan harapan agar komitmen tersebut benar-benar diterapkan dalam pelayanan sehari-hari.
BPPKB Banten Desak Evaluasi Kepemimpinan RS Misi
Menanggapi keluhan tersebut, Ketua Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar (BPPKB) Banten turut menyampaikan kritik terhadap pelayanan RS Misi. Ia menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian serius, terutama terkait penerapan standar operasional prosedur (SOP), komunikasi antara tenaga medis dan keluarga pasien, serta jaminan keselamatan pasien.
“Kami dari BPPKB Banten sangat menyayangkan persoalan ini. Komitmen pelayanan humanis yang disampaikan saat RDP harus dibuktikan melalui tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan. Keselamatan dan kondisi pasien harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Ia juga mendesak pihak terkait untuk mengevaluasi kepemimpinan Direktur RS Misi. Menurutnya, apabila ditemukan kekurangan serius dalam tata kelola maupun pelayanan rumah sakit, langkah perbaikan harus segera dilakukan, termasuk mempertimbangkan pergantian direktur sesuai hasil evaluasi dan ketentuan yang berlaku.
Selain itu, BPPKB Banten meminta Dinas Kesehatan dan instansi berwenang melakukan pemeriksaan terhadap standar pelayanan RS Misi. Pemeriksaan tersebut dinilai penting untuk memastikan bahwa pelayanan kepada masyarakat telah berjalan sesuai ketentuan dan mengutamakan keselamatan pasien.
Minta Klarifikasi dan Evaluasi Menyeluruh
Kasus yang dikeluhkan King Naga diharapkan menjadi perhatian pihak manajemen RS Misi untuk memberikan penjelasan secara terbuka mengenai alasan pemulangan pasien, pertimbangan medis yang mendasarinya, serta prosedur perawatan yang diberikan sambil menunggu jadwal operasi.
Dalam pelayanan kesehatan, keputusan mengenai rawat inap maupun rawat jalan perlu didasarkan pada penilaian klinis tenaga medis yang berwenang, kondisi pasien, serta kebutuhan pemantauan dan tindak lanjut perawatan. Karena itu, klarifikasi dari pihak rumah sakit diperlukan agar persoalan ini dapat dinilai secara objektif.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan resmi dari manajemen maupun Direktur RS Misi terkait keluhan King Naga dan desakan BPPKB Banten tersebut. Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak rumah sakit untuk memberikan penjelasan mengenai persoalan ini.
Masyarakat pun berharap adanya evaluasi menyeluruh agar mutu pelayanan kesehatan terus ditingkatkan dan kepercayaan publik terhadap rumah sakit tetap terjaga. (Red*
