Jakarta, 5 Oktober 2026 | Mediatargetkamera.my.id — Peningkatan derajat kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan fasilitas kesehatan, tetapi juga oleh sejauh mana masyarakat dapat mengakses dan memanfaatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhannya.
Bagi kelompok usia produktif, keterbatasan waktu akibat aktivitas pekerjaan menjadi salah satu hambatan dalam melakukan pemeriksaan, skrining, maupun pengobatan. Dalam konteks tersebut, optimalisasi Poli Sore di fasilitas kesehatan dapat menjadi salah satu strategi untuk memperluas akses pelayanan sekaligus mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Kehadiran layanan kesehatan pada sore hari memberikan alternatif waktu bagi masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan tanpa harus meninggalkan aktivitas pekerjaan.
Dari perspektif kesehatan masyarakat, derajat kesehatan merupakan gambaran kondisi kesehatan penduduk yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan, serta kondisi sosial dan ekonomi. Karena itu, peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan status kesehatan masyarakat.
Masyarakat usia produktif dapat memanfaatkan waktu setelah bekerja untuk melakukan berbagai pemeriksaan dan skrining, seperti pemeriksaan tekanan darah, gula darah, status gizi, serta faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) lainnya.
Bagi masyarakat, layanan sore dapat mengurangi hambatan waktu untuk berobat dan membantu menjaga kontinuitas pengobatan, khususnya bagi mereka yang menjalani pengobatan penyakit kronis. Fleksibilitas waktu tersebut semakin relevan bagi masyarakat usia produktif yang memiliki tuntutan pekerjaan dan aktivitas ekonomi.
Sementara bagi fasilitas pelayanan kesehatan, distribusi kunjungan pada pagi dan sore hari dapat membantu mengurangi kepadatan pelayanan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia.
Dalam perspektif yang lebih luas, pengendalian PTM sejak tingkat pelayanan kesehatan primer dapat membantu mencegah komplikasi yang membutuhkan pelayanan lebih kompleks. Kondisi kesehatan yang lebih terkontrol juga dapat mendukung kualitas hidup dan mempertahankan produktivitas penduduk, yang pada akhirnya menjadi bagian dari upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Membutuhkan Dukungan Kebijakan dan Tata Kelola
Optimalisasi Poli Sore membutuhkan dukungan kebijakan dan tata kelola yang responsif. Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan perlu memberikan ruang bagi fasilitas pelayanan kesehatan untuk menyesuaikan pola pelayanan dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat setempat.
Hal tersebut mencakup pengaturan shift tenaga kesehatan, ketersediaan sumber daya, hingga pembiayaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Di sisi lain, edukasi kepada masyarakat juga perlu diperkuat. Informasi mengenai jadwal layanan, jenis pelayanan, mekanisme pendaftaran, serta ketentuan pemanfaatan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) perlu disampaikan secara terbuka melalui media sosial, kanal digital, maupun media informasi yang tersedia di Puskesmas.
Digitalisasi juga menjadi bagian penting dalam mendukung layanan tersebut. Sistem pendaftaran dan antrean yang terintegrasi dapat memberikan kepastian waktu pelayanan sehingga masyarakat usia produktif lebih mudah merencanakan kunjungan kesehatan.
Keberhasilan Tidak Sekadar Menambah Jam Pelayanan
Pada akhirnya, keberhasilan Poli Sore tidak cukup diukur dari bertambahnya jam operasional. Evaluasi perlu melihat apakah layanan tersebut benar-benar mampu meningkatkan akses dan pemanfaatan pelayanan, cakupan skrining, pengendalian faktor risiko PTM, kontinuitas pengobatan, serta kualitas hidup masyarakat.
Dalam perspektif kesehatan masyarakat, akses terhadap pelayanan merupakan salah satu mata rantai menuju tercapainya status kesehatan penduduk yang lebih baik.
Ketika masyarakat dapat memperoleh pelayanan pada waktu yang sesuai dengan aktivitas dan kehidupannya, peluang untuk melakukan pencegahan, deteksi dini, pengobatan, serta pengendalian penyakit menjadi lebih besar.
Karena itu, Poli Sore dapat ditempatkan sebagai bagian dari strategi penguatan pelayanan kesehatan primer yang berorientasi pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat, khususnya kelompok usia produktif.
Poli Sore bukan sekadar memperpanjang jam pelayanan, tetapi menghadirkan sistem kesehatan yang lebih adaptif, preventif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Dengan sinergi antara kebijakan, sumber daya kesehatan, pembiayaan, transformasi digital, dan pemberdayaan masyarakat, optimalisasi Poli Sore dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Pada akhirnya, upaya tersebut diharapkan mampu menjaga masyarakat agar tetap sehat, produktif, serta memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Oleh: Della Dwi Ayu, S.K.M., M.K.M.
Dosen S1 Kesehatan Masyarakat UPN “Veteran” Jakarta
