Jakarta, Mediatargetkamera.my.id
Terdiagnosis gagal ginjal kronis merupakan kabar yang berat dan sering kali menimbulkan rasa takut, cemas, bahkan penolakan ketika dokter menyarankan terapi cuci darah (hemodialisis). Namun, menurut Dokter Laura yang bertugas di Ruang Hemodialisis (HD), dialisis bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah awal baru untuk mempertahankan kualitas hidup.
Saat ditemui Media Pengungkap Fakta, Dokter Laura mengatakan bahwa rasa takut merupakan hal yang sangat manusiawi, terutama bagi pasien yang baru pertama kali menjalani terapi dialisis.
“Enggan bukan berarti tidak punya pilihan. Rasa takut adalah hal yang wajar. Dengan edukasi yang tepat, dukungan keluarga, serta semangat untuk memulai terapi, banyak pasien justru dapat kembali menjalani hidup yang produktif,” ujarnya.
1. Anda Tidak Sendiri
Menurut Dokter Laura, ketakutan terhadap jarum suntik, mesin dialisis, maupun perubahan gaya hidup merupakan alasan yang paling sering dialami pasien baru.
Namun, setelah mendapatkan edukasi dari tenaga kesehatan, dukungan dari keluarga, dan berbagi pengalaman dengan pasien lain yang telah lebih dahulu menjalani dialisis, banyak pasien mampu beradaptasi dan kembali menikmati kualitas hidup yang lebih baik.
2. Dialisis Bukan Akhir dari Segalanya
Dokter Laura menegaskan bahwa hemodialisis merupakan terapi pengganti fungsi ginjal yang bertujuan membuang racun dan kelebihan cairan dari dalam tubuh.
Terapi ini dapat membantu mengurangi berbagai keluhan seperti mual, sesak napas, pembengkakan, dan kelelahan berat, sehingga pasien dapat kembali beraktivitas, bekerja, berkumpul bersama keluarga, hingga tetap berkarya sesuai kemampuannya.
3. Diskusikan Pilihan Terapi dengan Dokter
Selain hemodialisis di rumah sakit, terdapat beberapa pilihan terapi pengganti ginjal yang dapat didiskusikan bersama dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi (Sp.PD-KGH), di antaranya:
- CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis), yaitu metode cuci darah melalui rongga perut yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah sehingga lebih fleksibel.
- Transplantasi ginjal, sebagai pilihan terapi jangka panjang bagi pasien yang memenuhi persyaratan medis.
- Terapi konservatif (paliatif), yang berfokus pada pengendalian gejala, pengobatan, serta pengaturan pola makan apabila dialisis tidak memungkinkan berdasarkan pertimbangan medis.
4. Perkuat Mental dan Dukungan Emosional
Dokter Laura menekankan bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dalam proses menjalani pengobatan.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Bergabung dengan komunitas atau kelompok pendukung pasien gagal ginjal.
- Berbicara secara terbuka dengan keluarga dan tim medis mengenai kekhawatiran yang dirasakan.
- Mencari informasi kesehatan dari sumber yang terpercaya dan menghindari informasi yang belum terbukti kebenarannya di media sosial.
Konsultasi Terbuka adalah Langkah Terbaik
Di akhir pesannya, Dokter Laura mengimbau pasien maupun keluarga untuk tidak ragu berkonsultasi kembali dengan dokter apabila masih memiliki keraguan terkait terapi yang akan dijalani.
“Dialisis bukan akhir dari kehidupan, tetapi sebuah awal baru untuk tetap menjalani hidup dengan lebih sehat, lebih berkualitas, dan tetap bermanfaat bagi keluarga maupun lingkungan sekitar,” tutupnya.
