Targetkamera || Jakarta – Semangat menulis dan meneliti yang tumbuh setelah mengikuti program Indonesian Scientist Group di University of Melbourne, Australia, menjadi titik penting dalam perjalanan akademik Prof. Dr. Muhammad, M.Ag.
Pengalaman akademik di Negeri Kanguru tersebut membuka cakrawala intelektualnya bahwa dunia akademik internasional bukanlah ruang yang jauh bagi seorang dosen Indonesia. Melalui gagasan, karya tulis, dan keberanian intelektual, ruang global dapat diakses dan diisi dengan kontribusi nyata.
Sejak saat itu, semangat Prof. Dr. Muhammad untuk terus menulis, meneliti, dan mengikuti forum-forum ilmiah internasional semakin kuat. Dalam pencariannya terhadap konferensi akademik dunia, ia sempat menelusuri peluang di University of Toronto, Kanada. Namun, perjalanan intelektualnya justru membawanya ke sebuah konferensi ekonomi Islam internasional yang diselenggarakan di University of Ottawa.
Ia kemudian menghubungi panitia konferensi dan mendapatkan respons yang hangat. Sebagai syarat untuk menjadi presenter, panitia meminta dirinya mengirimkan paper riset sepanjang lima halaman.
“Lima halaman paper itu mungkin tampak sederhana bagi sebagian orang. Namun bagi saya, lima halaman itu menjadi simbol penting tentang kekuatan ilmu pengetahuan. Saya menyusunnya dengan penuh kesungguhan, ketelitian, dan dedikasi akademik,” ujar Prof. Dr. Muhammad kepada awak media, Rabu (3/6/2026).
Kerja keras tersebut membuahkan hasil. Paper yang dikirimkan diterima dan ia resmi diundang sebagai pembicara internasional di Kanada.
Sebagian biaya keberangkatannya didukung oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, sementara sisanya berasal dari dana pribadi yang masih tersisa dari perjalanan akademiknya sebelumnya ke Australia.
Perjalanan ke Kanada tidak hanya menjadi perjalanan geografis, tetapi juga perjalanan intelektual dan spiritual. Selama berada di negara tersebut, Prof. Dr. Muhammad menyaksikan secara langsung kehidupan masyarakat multikultural yang hidup dalam keteraturan serta penghormatan terhadap keberagaman.
Kota Montreal meninggalkan kesan mendalam baginya. Kota yang menggunakan dua bahasa utama, Inggris dan Prancis, itu tetap berjalan harmonis dalam kehidupan sosial yang tertib dan modern.
Salah satu pengalaman paling berkesan adalah kunjungannya ke McGill University, salah satu universitas paling prestisius di Kanada dan dunia. Kampus tersebut memiliki nilai historis tersendiri karena pernah menjadi tempat menimba ilmu bagi tokoh pembaharu pemikiran Islam Indonesia, Harun Nasution.
Meski kunjungannya tidak bersifat resmi, ia tetap disambut dengan baik oleh staf kampus. Ia menyusuri berbagai sudut lingkungan akademik, termasuk melihat Gedung John F. Kennedy, sambil membayangkan jejak para ilmuwan Muslim Indonesia yang pernah belajar di sana.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Toronto dan Ontario, dua wilayah yang memperlihatkan dinamika modernitas global. Ia juga berkesempatan mengunjungi National Tower of Canada (CN Tower) dan menikmati panorama kota dari ketinggian.
Namun, pengalaman yang paling membekas terjadi saat mengunjungi Niagara Falls. Air terjun raksasa yang berada di perbatasan Kanada dan Amerika Serikat itu menghadirkan refleksi mendalam tentang kehidupan, waktu, dan kebesaran Tuhan.
Dari kawasan Niagara, Prof. Dr. Muhammad menyeberang ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya melalui jalur perbatasan yang menghubungkan kedua negara.
Berbagai forum internasional yang diikutinya mengajarkan bahwa dunia terlalu luas untuk dipahami dengan cara berpikir yang sempit. Melalui dialog dan diskusi akademik lintas negara, ia belajar menghargai perbedaan, menerima keberagaman, dan membangun pemahaman budaya yang lebih mendalam.
Baginya, ilmu pengetahuan adalah ruang perjumpaan kemanusiaan, bukan arena kesombongan intelektual.
Perjalanan akademik internasional tersebut juga memberinya berbagai manfaat yang tidak dapat diukur secara material, seperti kepuasan batin, kematangan berpikir, keseimbangan psikologis, kemampuan menulis dan berbicara yang semakin terasah, serta jejaring persahabatan lintas budaya yang masih terjalin hingga saat ini.
Pada tahun 2012, Prof. Dr. Muhammad juga pernah menjadi Research Fellow pada Center for Studies in Religion and Society (CSRS), University of Victoria, Kanada, atas undangan Prof. Paul Bramadat, Ph.D., selaku Direktur CSRS saat itu.
Sepulang dari Kanada, kiprah akademiknya terus berkembang. Ia memperoleh berbagai kesempatan dan dukungan akademik, termasuk melalui program International Seminar on Islamic Studies (ISFIS) yang diselenggarakan Kementerian Agama Republik Indonesia.
Program tersebut menjadi salah satu ajang bergengsi yang membuka jalan bagi dosen Indonesia untuk mempresentasikan hasil penelitian terbaik mereka di forum internasional. Proses seleksinya sangat ketat karena diikuti ribuan dosen dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Melalui bantuan kolega dan jejaring akademik internasional, Prof. Dr. Muhammad akhirnya berhasil memperoleh Letter of Acceptance (LoA) dari Oxford University, Inggris.
Pencapaian tersebut menjadi momentum penting dalam perjalanan akademiknya. Ia tidak hanya akan mengikuti konferensi internasional, tetapi juga berkesempatan berdialog dan berinteraksi secara akademik di Lady Margaret Hall, Oxford University, salah satu institusi pendidikan paling bergengsi di dunia.
Bagi Prof. Dr. Muhammad, perjalanan akademik lintas negara bukan sekadar tentang prestasi pribadi, melainkan tentang membawa nama Indonesia ke panggung dunia melalui ilmu pengetahuan, penelitian, dan kontribusi intelektual yang bermanfaat bagi peradaban.
(Tim/Red**
