PANDEGLANG, Mediatargetkamera.my.id
Perjuangan mendapatkan pendidikan yang layak dirasakan Erfan, seorang murid penyandang disabilitas yang bersekolah di salah satu sekolah swasta di Kampung Sukajadi Barat, Desa Sukajadi, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Setiap hari, Erfan harus menempuh jalan yang rusak untuk pergi dan pulang sekolah menggunakan kursi roda. Bersama sang ibu, Erna Riani, Erfan harus berjuang melewati jalan berbatu dan terjal demi tetap bisa mengikuti kegiatan belajar seperti murid lainnya.
Kondisi jalan yang tidak layak tersebut bahkan kerap membahayakan keselamatan Erfan. Sang ibu mengaku, kursi roda yang digunakan Erfan pernah hampir terguling saat didorong menuju sekolah.
“Hampir setiap hari kami berdua, saat ingin ke sekolah, harus berjuang dengan kondisi jalan yang rusak,” ujar Erna Riani, ibu dari Erfan, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, keterbatasan fisik yang dimiliki sang anak tidak pernah mengurangi semangat Erfan untuk menuntut ilmu. Keinginan kuat Erfan untuk tetap bersekolah menjadi alasan dirinya terus berjuang melewati jalan rusak tersebut setiap hari.
“Mau bagaimana lagi, Pak. Kami hanya melihat keinginan Erfan untuk bersekolah. Karena keinginannya itu, kami harus selalu berjuang melewati jalan rusak,” tutur Erna dengan nada haru.
Erna mengatakan, dirinya dan Erfan kerap berangkat maupun pulang sekolah dengan rasa cemas. Namun, demi memenuhi hak anaknya untuk mendapatkan pendidikan yang setara, perjuangan tersebut tetap dijalani.
“Anak kami memang punya keterbatasan, Pak. Namun Erfan selalu ingin sekolah dan menuntut ilmu seperti teman-temannya yang lain,” kata Erna.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi akses jalan menuju sekolah tersebut. Menurutnya, bukan hanya Erfan yang terdampak, tetapi seluruh murid dan orang tua yang setiap hari harus melintasi jalan rusak.
“Kami tidak banyak menuntut kepada pemerintah. Kami, para orang tua murid, hanya menginginkan jalan menuju sekolah ini diperbaiki,” ungkapnya.
Kondisi tersebut juga dibenarkan oleh Kepala Sekolah MIS YSAB, Encun. Ia mengaku prihatin melihat perjuangan para murid, khususnya Erfan, yang harus menggunakan kursi roda melewati jalan yang rusak.
“Memang benar, Erfan bersekolah di tempat kami. Kami juga sering melihat para murid harus melalui jalan rusak itu. Apalagi Erfan, kami sangat miris melihatnya. Dengan kursi rodanya, Erfan dan ibunya harus datang dan pulang sekolah melalui jalan ini,” ungkap Encun.
Pantauan wartawan di lokasi menunjukkan kondisi jalan menuju sekolah memang cukup memprihatinkan. Jalan tersebut dipenuhi hamparan batu, tidak rata, terjal, dan mengalami kerusakan di sejumlah titik sehingga menyulitkan para pengguna jalan, terutama anak-anak dan penyandang disabilitas.
Seorang warga sekitar yang enggan disebutkan namanya turut mengaku prihatin terhadap kondisi tersebut.
“Kami sangat prihatin terhadap para siswa yang sekolah di sana, terutama Erfan yang harus selalu melalui jalan ini. Apalagi kalau musim hujan datang, sangat miris melihatnya, Pak,” ujarnya.
Warga lainnya menyebutkan bahwa jalan menuju sekolah tersebut sudah cukup lama tidak mendapatkan perbaikan.
“Sudah puluhan tahun, Pak, jalan ini belum juga diperbaiki,” kata warga lainnya.
Ironisnya, kondisi tersebut terjadi tidak lama setelah masyarakat Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Bagi Erfan dan murid-murid lainnya, akses jalan yang layak untuk menuju tempat menuntut ilmu masih menjadi harapan yang belum terwujud.
Kini, Erfan tetap melanjutkan perjuangannya. Dengan kursi roda dan ditemani sang ibu, ia terus berangkat ke sekolah melewati jalan rusak demi mengejar cita-cita dan mendapatkan hak pendidikan yang sama seperti anak-anak lainnya.
Harapan sederhana mereka kini tertuju kepada pemerintah dan pihak terkait, agar segera memberikan perhatian serta memperbaiki akses jalan menuju sekolah, sehingga para murid, terutama penyandang disabilitas seperti Erfan, dapat menempuh pendidikan dengan lebih aman, nyaman, dan layak.
(Redaksi/Target Kamera)
