PANDEGLANG, BANTEN | Mediatargetkamera.my.id — Dalam upaya memastikan mutu, keamanan, dan kualitas gizi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Puncak Manik menggelar Sosialisasi Uji Organoleptik pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlangsung di SDN Banjarnegara 2, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang, tersebut dihadiri 24 Person in Charge (PIC) sekolah penerima manfaat, Kepala SPPG Dapur MBG Puncak Manik, tim ahli gizi, serta jajaran pengurus SPPG.
PIC SPPG Puncak Manik, Husaeni, mengatakan kegiatan tersebut merupakan langkah konkret dalam penerapan manajemen mutu (quality control) yang dilakukan secara ketat, mulai dari proses pengolahan makanan di dapur hingga sesaat sebelum makanan disajikan dan dikonsumsi para siswa.
“Langkah ini merupakan bagian dari prosedur ketat manajemen mutu (quality control) ilmiah yang kita terapkan dari dapur hingga sesaat sebelum makanan dikonsumsi oleh penerima manfaat. Kita melakukan tindakan preventif untuk mencapai target nol kejadian keracunan (zero accident),” ujar Husaeni.
Dalam sosialisasi tersebut, para PIC sekolah mendapatkan pembekalan teknis mengenai uji organoleptik, yakni metode pengujian mutu pangan dengan memanfaatkan sensitivitas pancaindra manusia untuk mendeteksi potensi kerusakan maupun kontaminasi pada makanan.
Adapun empat parameter utama yang menjadi fokus pemeriksaan meliputi:
1. Rasa
Memastikan rasa makanan normal, bumbu seimbang, serta tidak terdapat rasa asam, basi, atau rasa lain yang tidak wajar dan dapat mengindikasikan adanya kerusakan makanan.
2. Aroma
Mendeteksi aroma segar khas makanan yang baru matang serta memastikan tidak terdapat bau tengik, busuk, masam, atau aroma tidak normal lainnya.
3. Warna dan Tampilan Visual
Memeriksa kondisi visual makanan untuk memastikan tidak mengalami perubahan warna yang tidak wajar, serta tidak terdapat lapisan lendir, air berlebih, maupun tanda-tanda pertumbuhan jamur.
4. Tekóstur
Menilai tingkat kematangan dan kondisi makanan, seperti nasi yang harus pulen, lauk pauk matang sempurna, serta sayuran yang tidak terlalu hancur atau layu.
Husaeni menekankan pentingnya peran aktif para PIC sekolah sebagai salah satu lapisan terakhir pengawasan mutu makanan sebelum dikonsumsi oleh para siswa.
“Jika saat PIC sekolah menerima makanan dalam ompreng terdapat perubahan mendasar pada tekstur, warna, aroma, atau hal lain yang tidak normal, maka makanan tersebut tidak boleh dibagikan atau dikonsumsi. Ini adalah SOP ketat demi menjaga keselamatan anak-anak kita dari risiko keracunan,” tegas Husaeni.
Menurutnya, pengawasan tidak hanya menjadi tanggung jawab pihak dapur SPPG, tetapi membutuhkan sinergi dengan pihak sekolah agar setiap makanan yang diterima siswa benar-benar berada dalam kondisi aman dan layak konsumsi.
Melalui sinergi antara Tim Ahli Gizi SPPG Puncak Manik dan para PIC sekolah di Kecamatan Pulosari, diharapkan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya tepat sasaran secara kuantitas, tetapi juga memenuhi standar mutu, kesehatan, kebersihan, keamanan pangan, serta kehalalan.
Dengan penerapan uji organoleptik secara konsisten, SPPG Puncak Manik berkomitmen memperkuat sistem pengawasan sebagai langkah preventif guna memberikan makanan yang aman dan berkualitas bagi para penerima manfaat. (Red*
